Crossing the Blues

Sunday, December 19, 2010

Hal Yang Membuat Pria Impotensi

Berikut fakta-fakta yang ditemui seputar Disfungsi Ereksi atau impotensi yang menjadi momok menakutkan.
http://i344.photobucket.com/albums/p352/diadandia/artikel/16745_cintaitubuta-adri_resize.jpg
Disfungsi ereksi (DE) atau yang biasa dikenal dengan nama impotensi memang menjadi momok yang menakutkan bagi kaum lelaki. Pasalnya yang terganggu bukan cuma urusan syahwat saja, namun juga menyangkut harga diri seorang lelaki. Padahal disfungsi ereksi sangat terkait dengan gaya hidup dan penyakit. Meskipun ada juga yang sifatnya disfungsi ereksi temporer, karena berhubungan dengan faktor psikis. Misalnya suami mendadak impoten dengan pasangan karena ternyata dia memendam rasa sakit hati terhadap pasangannya. Namun saat harus ‘bertempur’ dengan wanita lain, alat vitalnya masih berfungsi normal.
Apakah semua disfungsi harus diobati dengan obat resep dokter? Ternyata tak semua kasus ‘melempemnya’ kejantanan harus ditangani dengan obat-obatan.
Untuk kasus DE terkait faktor psikis, biarpun diberi obat, namun jika akar masalahnya tidak ditemukan, maka hasilnya akan sia-sia.
Biasanya jika DE karena faktor psikis, jika akar masalahnya ketemu, maka alat vital laki-laki akan berfungsi normal lagi. Tak jarang, kasus DE yang Anda dengar ternyata hanya sebatas isapan jempol belaka tanpa dilandasi bukti ilmiah. Misalnya mengenai penyebab impotensi itu sendiri. Namun Anda boleh percaya dengan fakta yang akan dipaparkan berikut:
1. Kebiasaan merokok memberikan risiko terjadinya DE hingga 2,74 kali lipat dibanding bukan perokok (American Journal of Epidemiology, 2004)
2.  Laki-laki yang kegemukan (obesitas) memiliki peluang mengalami DE dalam kurun waktu 14 tahun, lebih besar 90% dibanding yang berat badannya normal (Journal of Urology, 2006) 3. Kurang lebih 18% pria Amerika berusia di atas 20 tahun mengalami DE. Selain itu, sekitar 51,3% penderita Diabetes mellitus (kencing manis) di AS mengalami impotensi (American Journal of Medicine, 2007)
4. Olahraga mengurangi risiko terjadinya DE. Misalnya olahraga lari selama tiga jam setiap minggu atau bermain tenis selama lima jam per minggunya akan menurunkan risiko terjadinya DE hingga 30% (Annals of Internal Medicines, 2003)
5. Disfungsi ereksi dua kali lipat lebih banyak ditemukan pada orang yang mengalami depresi. Sebaliknya pada kelompok pasien yang mengalami DE sekitar 82% mengalami depresi. Seperti lingkaran setan.
sumber http://www.astaga.com/