Crossing the Blues

Tuesday, February 22, 2011

Akhiri Konflik Dengan Ngesek



Redakan konflik dengan ngeseks (Foto: Cosmopolitan)
BANYAK pasangan yang percaya, menikmati seks usai perselisihan adalah hal yang menyehatkan. Pasalnya, kegiatan yang satu ini mendatangkan kesenangan seusai konflik terjadi.

Pengalaman semacam itu memang sering terjadi, tetapi apakah baik untuk terlibat dalam kegiatan seks usai perselisihan, di mana kedua belah pihak mungkin masih menyimpan kemarahan?


Kemarahan dan Hasrat

Batas antara kemarahan dan hasrat adalah beda tipis. Alasan ini yang menyebabkan banyak pasangan cenderung memilih bercinta setelah menghabiskan waktu mereka dengan bertengkar. Kemarahan saat bertengkar terkadang berperan sebagai bahan bakar yang bisa menyulut hasrat seseorang. Bahkan, kemarahan dan gairah terkadang bekerja secara bersamaan, seperti yang dilansir dari Datingtips.

Ketika seseorang sedang marah, mereka merasa telah mengendalikan situasi dan ingin kebutuhannya segera terpenuhi. Perasaan tersebut berperan sebagai bahan bakar yang merangsang keinginan mereka sehingga dapat menyebabkan berlangsungnya kegiatan seks. Penting untuk diingat, kemarahan bisa menjadi masalah yang sering terjadi, namun juga bisa menjadi pendorong seks yang sangat baik.

Kemarahan juga bisa menjadi sarana untuk melepaskan seseorang yang tengah terkurung dari perasaan negatif dan frustrasi. Jika seseorang telah menyimpan rasa frustrasi dan perasaan negatif di dalam dirinya, ini juga bisa menjadi bahan bakar menuju hubungan seks yang dahsyat. Ketika emosi terpendam diluapkan, maka kemarahan bisa menciptakan kegiatan seks lebih mendebarkan dari biasanya.


Alasan yang berbeda

Hasil menyebutkan, penilaian seks usai perselisihan baik pria maupun wanita berada di titik yang berbeda. Cenderungnya kaum adam berpendapat, bahwa seks dapat menjadi solusi akhir untuk masalah-masalah yang terjadi, termasuk setelah beradu argumen dengan pasangan. Itu sebabnya pria paling senang mengakhiri sebuah perselisihan secara panas dengan kegiatan seks. Namun kenyataannya, hal ini berbeda dengan penilaian wanita. Kaum hawa tampaknya tidak setuju dengan hal ini.

Cenderungnya banyak wanita percaya bahwa ada masalah yang mungkin masih perlu diselesaikan, bahkan setelah mengakhiri perselisihan dengan kegiatan seks. Bagi mereka, kegiatan bercinta hanyalah sesuatu yang bisa memecahkan amarah sehingga bisa mendinginkan suasana, membangun hubungan yang lebih baik antara pasangan usai berseteru. Dan menurut para wanita, masalah yang telah diperbincangkan masih berada di tempatnya, belum terpecahkan, dan masih perlu dibahas serta diselesaikan.