Crossing the Blues

Monday, March 14, 2011

Hantu Plus Sensasi Tubuh

Film horor Indonesia tengah ramai diputar di bioskop. Sensasi tubuh masih menjadi suguhan utama, selain tentunya adegan yang dimaksud untuk membuat penonton ”takut”.Bioskop 21 Slipi Jaya pada Minggu memutar tiga film Indonesia dan semuanya adalah film horor, yaitu Arwah Goyang Jupe Depe, Pocong Ngesot, dan Jenglot Pantai Selatan. Ketiga film horor tersebut pada awal Maret lalu juga diputar di beberapa bioskop lain, seperti di Blok M Square dan Atrium Senen.
Alih-alih dibuat takut, mayoritas penonton justru pulang dengan tertawa cekikikan atau mengomentari tubuh-tubuh seksi yang terus dimunculkan di hampir semua sekuel film. Hantu-hantu seolah hanya menjadi bumbu, sedangkan kemunculan perempuan seksi sebagai menu utamanya.
Film Arwah Goyang Jupe Depe yang sebelumnya diberi judul Arwah Goyang Karawang, misalnya, sarat dengan tontonan tubuh Julia Perez dan Dewi Perssik sebagai pemeran utama. Mereka bergoyang dalam balutan kain supertipis. Termasuk goyang gergaji ala Dewi Persik.
Jurus serupa juga ditampilkan Pocong Ngesot yang menampilkan pesona gadis-gadis belia. Mereka tampil hanya berbalut handuk atau pakaian tidur mini ketika si hantu pocong ngesot tiba-tiba muncul dan membuat gadis-gadis cantik ini lari terbirit-birit.
Lebih sensasional lagi adalah Jenglot Pantai Selatan yang menampilkan puluhan gadis seksi dalam balutan bikini. Lokasi shooting di pantai selatan dengan hamparan luas pasir dan deburan suara ombak menjadikan kehadiran gadis-gadis berbikini ini seolah menjadi wajar. Bisa dikatakan rasa horor dalam film ini hanya 10 persen, sedangkan 90 persen bikini.
Walau belum bisa diandalkan secara kualitas, penonton film horor ternyata cukup antusias. Seorang penonton remaja, Dian (18), mengaku menggemari film horor karena menghibur dan bisa dinikmati bersama rekan-rekannya.
Dalam catatan peneliti film horor Indonesia, Veronica Kusumaryati, jumlah penonton film horor Indonesia sempat mencapai puncaknya pada tahun 2005-2006. Film karya Rizal Mantovani berjudul Kuntilanak pada 2006 bahkan berhasil meraup penonton tertinggi sebanyak 1,5 juta orang. Dengan kata lain, horor itu menghibur.
Membingungkan
Meski penonton dijamu dengan ”keindahan” gambar, jalan cerita dari setiap film horor tersebut cenderung membingungkan. Kisah dan alur cerita sering kali tidak logis. Film menyodorkan sosok hantu dan monster secara berlebihan dengan frekuensi penampakan kelewat sering.
Hingga akhir cerita, tidak ada penjelasan kenapa hantu pocong yang biasanya berjalan melompat-lompat tiba-tiba berubah ngesot di film Pocong Ngesot. Setelah membalas dendam kematiannya, hantu perempuan di film Arwah Goyang Jupe Depe diceritakan menuju Bandara Soekarno-Hatta untuk ikut tur tari ke Eropa.
Jauh dari kata menegangkan, penonton film Jenglot Pantai Selatan dibuat tertawa terbahak-bahak ketika pemain utama perempuan, Temmi, berhasil memasukkan jenglot ke dalam karung plastik dan memukulinya menggunakan wajan. Ketika si jenglot bisa kabur dari karung, Temmi pun mencoba membuat jebakan dengan umpan daging ayam untuk memasukkan jenglot ke dalam alat pemanggang daging. Jenglot masuk perangkap dan dibakar di dalam microwave.
Jenglot memilih raga Temmi untuk menjadi rumah barunya. Film berakhir dengan kebingungan di benak penonton. Kenapa jenglot memilih merasuk ke tubuh Temmi dibanding banyak gadis seksi lain yang sudah dimangsanya. Seusai pemutaran film perdana di fX pada Rabu (16/2), pemeran sang dukun baru menjelaskan bahwa jenglot mencari gadis perawan.
Hantu dari masa ke masa
Kehadiran hantu yang menegangkan diramu dengan adegan komedi. Itu merupakan cara paling mudah mengundang gelak tawa penonton. Jurus lain lagi adalah dengan menghadirkan pemeran waria seperti di film Arwah Goyang Jupe Depe dan Pocong Ngesot. Sutradara Rizal Mantovani mencoba menghadirkan yang berbeda lewat kehadiran sosok jenglot sebagai monster pembunuh. Film ini dirancang menyerupai film Barat tentang monster hiu atau monster piranha.
Hantu-hantu dalam film horor kita dari masa ke masa kurang lebih sama. Hasil penelitian Veronica menunjukkan, 49 persen jenis hantu dalam film horor Indonesia dari tahun 1926-1998 didominasi kuntilanak dan arwah perempuan. Dominasi kuntilanak dan arwah perempuan itu meningkat 66 persen pada 1998-2008. Sisanya, film horor banyak menggunakan tokoh hantu pocong dan hantu anak-anak.
Hingga tahun ini, formula yang sama pun masih digunakan untuk ”menakut-nakuti” penonton. Belakangan muncul apa yang disebut Rizal Mantovani sebagai legenda urban. Lokasi beroperasinya para hantu di daerah perkotaan. Suster Ngesot (2007) Terowongan Casablanca (2007), Hantu Ambulans (2008) adalah beberapa contoh legenda urban. Kini Rizal Mantovani memunculkan monster jenis baru seperti jenglot.
Ditilik dari sejarahnya, pembuatan film horor di Indonesia dimulai sejak tahun 1934 dengan lahirnya film Ouw Peh Tjoa (Doea Siloeman Oeler Poeti en Item). Film horor berlatar belakang cerita Tionghoa mendominasi bioskop Indonesia hingga tahun 1969, kemudian film horor lokal diproduksi.
Salah satu film horor yang cukup menghebohkan adalah Beranak dalam Kubur (1971) yang dibintangi Suzanna. Film dengan judul sama dibuat tahun 2007 dengan melibatkan Julia Perez sebagai sosok hantu.
Memasuki tahun 2007 dalam penelitian Veronica, produsen film horor kembali ke trik lama di era tahun 1990-an, yaitu dengan menonjolkan seksualitas dan komedi. Pesona raga dianggap sebagai pesona mata paling ampuh. Rizal Mantovani mengakui sengaja menampilkan gadis-gadis seksi dalam Jenglot Pantai Selatan demi menarik minat penonton.
source:kompas.com