Crossing the Blues

Thursday, March 10, 2011

Seni Berciuman


MESKI telah mengalami kemajuan seiring berkembangnya zaman, namun hingga kini sejarah atau awal mula ciuman masih tetap menjadi perdebatan yang sengit. Penyebab mengapa seseorang mencium orang lain, masih menjadi teka-teki yang gelap seperti gelapnya pandangan seseorang yang tengah terbuai kenikmatan saat dirinya berciuman hingga “terpaksa” menutup kedua kelopak matanya!
Seperti diungkap di buku “Kamasutra & Kecerdasan Seks Modern” karya Ki Guno Asmoro, sebagian dari para ahli memberikan pendapatnya meski belum mendapat kepastian atau kesamaan pendapat dengan ahli lainnya bahwa salah satu penyebab orang mencium atau berciuman kemungkinan disebabkan karena kebiasaan orang-orang purba yang senang mengendus sesuatu, termasuk mengendus orang lain.
Menurut sebagian ahli, cara mengendus yang mirip cara binatang itu digunakan untuk saling “bertegur sama” atau untuk saling mengucapkan salam. Dari saling mengendus tampaknya mereka mendapatkan kenikmatan tersendiri, hingga akhirnya berkembang menjadi berciuman.
Teori asal-mula ciuman seperti itu mendapat banyak sanggahan. Meski hidup di zaman serba-primitif, namun manusia ketika itu telah menyadari jika dirinya sangat berbeda jika dibandingkan dengan hewan. Sesederhana atau serendah apa pun tingkat pengetahuannya, manusia ketika itu pasti akan langsung mengerti sesuatu yang tengah dihadapinya, apakah itu manusia seperti dirinya atau bukan.
Bahkan, lelaki purba pasti juga mengetahui lawan jenisnya. Tentu ia tidak harus menyaksikan dengan cara mengendusnya! “Pengendusannya”, seandainya itu memang dilakukannya, tentu untuk mendapatkan “sesuatu” yang sangat menyenangkan yang dirasakannya berhubungan dengan lawan jenisnya dan tidak semata-mata untuk bertegur sapa atau untuk saling mengucapkan salam.
Terdapat pula teori asal-mula ciuman dikarenakan adanya “sindrom keringat”, yakni karena adanya keringat yang keluar dari tubuh yang berguna untuk mempertahankan suhu tubuh. Keringat dari orang lain itu mengandung garam hingga perlu “dicium” oleh orang lain agar suhu tubuh penciumannya tetap dalam kondisi sejuk. Itulah sebabnya orang-orang purba mempunyai kebiasan untuk saling berciuman.
Namun terori ini mendapat sanggahan dan tantangan keras, diantaranya melalui pertanyaan yang sangat sederhana, jika memang berciuman dilakukan agar tubuh seseorang tetap dalam kondisi sejuk, lantas mengapa pula orang masih tetap berciuman setelah malam hari, di mana cuaca telah sejuk akibat “menghilangnya” matahari? Bukankah waktu malam itu tubuh “tidak” lagi mengeluarkan keringat? Dengan demikian, berciuman tentu tidak sekadar digunakan untuk menyejukkan tubuh, melakinkan karena adanya “sesuatu”!
Apa pun juga penyebab dan alasan seseorang mencium, berciuman itui sendiri merupakan “seni”. Karena nilai seni itu, manusia pun mengeksplorasi ciuman untuk mendapatkan manfaat yang lebih. Berbagai ciuman lantas diberikan maknanya, berbagai “gaya” berciuman berikut variasnya lantas diciptakan, daerah-daerah tubuh pasangan untuk menjadi “pendaratan” ciuman terus dipelajari, dan pengeksplorasian ciuman itu terus berkembang seiring perkembangannya zaman serta peradaban umat manusia.(SUMBER:OKEZONE.COM)