Crossing the Blues

Monday, March 14, 2011

Wanita Dengan Siklus Menstruasi Teratur Lebih Mudah Memiliki Keturunan

Dok, apakah ovarium saya dapat menghasilkan sel telur yang matang dan baik untuk dibuahi?
Pertanyaan di atas tampaknya adalah pertanyaan yang hampir pasti dipikirkan setiap wanita yang memiliki masalah infertilitas dan hendak menjalani tes kesuburan.
Memang benar, apabila kedua ovarium yang dimiliki seorang wanita tidak mampu menghasilkan sel telur matang untuk dibuahi oleh spermatozoa, tidak mungkin wanita tersebut dapat memiliki seorang anak tanpa bantuan obat ataupun teknologi kedokteran.
Dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, seorang dokter mampu menjawab pertanyaan tersebut. Di awal investigasinya, dokter akan banyak mengajukan pertanyaan pada pasangan suami istri seputar siklus menstruasi yang dimiliki. Mengapa harus seputar siklus menstruasi wanita?
Bukti medis yang telah ada menunjukkan bahwa wanita dengan siklus menstruasi yang teratur, yaitu antara 26 sampai dengan 36 hari, memiliki fungsi produksi sel telur matang (ovulasi) yang baik. Oleh karena itu, kejujuran anda saat menjawab pertanyaan seputar menstruasi yang diutarakan adalah hal utama dalam investigasi.
Untuk memastikan bahwa perdarahan yang Anda alami adalah proses menstruasi, dokter juga akan
mananyakan tanda-tanda yang menyertai sebelum, setelah, ataupun saat terjadinya perdarahan. Pada dunia kedokteran, gejala-gejala normal yang tidak menyenangkan terutama sebelum menstruasi disebut dengan molimina menstrualia (Istilah yang dikenal oleh masyarakat: Premenstruation syndrome atau PMS).
Keluar darah saat menstruasi adalah hal yang normal, tetapi ada banyak macam penyakit yang juga menimbulkan gejala perdarahan dari vagina. Gejala perdarahan tersebut sering disalah artikan sebagai menstruasi sehingga seorang dokter harus berhati-hati dan selalu berupaya memastikan kebenaran dari siklus menstruasi yang diakui oleh wanita yang diwawancarainya.
Kelainan ataupun penyakit yang seringkali mengakibatkan gejala seperti menstruasi antara lain: Infeksi di daerah panggul, kanker organ reproduksi wanita, kelainan darah, ataupun penggunaan beberapa jenis obat yang sama sekali tidak berhubungan dengan pengobatan ketidaksuburan, misalnya: obat anti depresi, anti hipertensi, anti pembekuan darah (Anti koagulan), anti alergi, serta obat-obatan untuk penyakit jantung.
Atas dasar-dasar inilah, sekali lagi ditegaskan bagaimana pentingnya kejujuran dan kerjasama antara wanita dan sang dokter untuk menemukan penyebab ketidaksuburan.
Apabila dirasa perlu, dokter juga dapat menyarankan pasangan suami istri untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan laboratorium yang sangat banyak digunakan dan terbukti efektif adalah pemeriksaan kadar enzim progesteron.
Dengan menggunakan prinsip fisiologis kadar hormon yang selalu berubah, tergantung pada urutan hari dalam siklus menstruasi, dokter dapat mengetahui kepastian terjadinya ovulasi saat kadar hormon progesteron mencapai puncak.
Saat ini dunia kedokteran telah mengetahui bahwa sekitar 1 minggu sebelum menstruasi berikutnya, kadar hormon progesteron mencapai puncak akibat dihasilkannya progesteron secara terus-menerus oleh sel dalam ovarium. Hal tersebut tidak mungkin terjadi tanpa didahului oleh ovulasi sebelumnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kadar hormon progesteron dapat diandalkan hasilnya untuk memastikan terjadinya produksi dan dilepaskannya sel telur yang matang.
Sebenarnya terdapat beberapa kadar hormon lain yang dapat diukur dan membantu diagnosis kegagalan ovulasi pada seorang wanita. Akan tetapi, pemeriksaan kadar hormon-hormon tersebut dilakukan apabila wanita tersebut dicurigai memiliki penyakit lain yang secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan ketidaksuburan.
Agar dapat memahami secara lebih mudah tentang prinsip pemeriksaan laboratorium yang dilakukan untuk memastikan terjadinya ovulasi, anda dapat melihat rangkuman kadar hormone-hormon terkait siklus menstruasi pada grafik berikut.

Sindrom ovarium polikistik adalah penyakit penyebab ketidaksuburan pada banyak wanita. Sayangnya, dunia kedokteran belum dapat menyingkap banyak misteri mengenai hal tersebut, termasuk tata cara pengobatannya. Pertanyaan yang mungkin Anda miliki saat ini adalah “Mengapa sindrom ovarium polikistik mampu menyebabkan ketidaksuburan wanita?” Pada wanita dengan sindrom ovarium polikistik, terjadi ketidakseimbangan hormonal yang menyebabkan pematangan sel telur maupun pelepasannya ketempat pembuahan terganggu.
Sebagai akibatnya, wanita tersebut tidak memiliki sel telur matang yang siap dibuahi spermatozoa, bahkan tidak terjadi pelepasan sel telur dalam siklus ovulasi. Oleh karena itu, tanda yang paling menonjol pada wanita penderita sindrom ovarium polikistik adalah tidak teraturnya menstruasi (lebih jarang dibandingkan wanita normal) ataupun tidak mengalami siklus menstruasi sama sekali.
Pengobatan yang tepat oleh dokter dengan menggunakan hormon-hormon seks tambahan akan dapat membantu dan memberikan harapan bagi wanita dengan sindrom tersebut untuk hamil dan memiliki buah hati.
source:seksualitas.net