Crossing the Blues

Thursday, April 28, 2011

Bisakah Perselingkuhan Dicegah?

(Foto: gettyimages)
(Foto: gettyimages)
KETIKA pria dan wanita ditanya soal apakah mereka pernah selingkuh, pria cenderung menyombongkan perselingkuhan mereka sedangkan wanita justru berusaha menutupinya. Pertanyaannya kemudian, bisakah affair dicegah?

Hampir setengah dari mereka yang berada dalam hubungan berkomitmen melakukan selingkuh pada beberapa titik perjalanan asmaranya. Dan yang mengejutkan, 98 persen orang memfantasikan orang lain di luar pasangan mereka. Apalagi dengan adanya jaringan sosial seperti Facebook, orang lebih mudah untuk meliarkan dan mewujudkan fantasi mereka, baik secara maya ataupun dunia nyata.

Menariknya, sedikit di antara mereka yang selingkuh akhirnya meninggalkan pasangan mereka demi selingkuhannya. Dan pada mereka yang melakukannya, tingkat perceraian yang terjadi sangat tinggi, yakni lebih dari 75 persen. Kebanyakan alasannya karena sulit untuk memercayai seseorang yang telah mengkhianatinya, meskipun ia pasangan yang telah bertahun-tahun bersama.

Jadi, jika konsekuensi selingkuh begitu besar, mengapa banyak orang masih melakukannya? Dan, adakah cara mencegah perselingkuhan?

Berlawanan dengan kepercayaan populer, selingkuh tidak selalu terjadi ketika seseorang tidak bahagia dalam hubungan mereka. Steve Stosny, terapis dan penulis, mengatakan bahwa 80 persen selingkuh terjadi karena adanya kesempatan.

Jika benar adanya, maka tidak peduli seberapa sering Anda melakukan hubungan seks dengan pasangan atau Anda berupaya membuang “kerikil” dalam rumah tangga, pernikahan Anda tetap berisiko untuk perselingkuhan. Mencegah pasangan tidak selingkuh bukan dengan  menjauhinya dari teman-teman lawan jenis, juga bukan membatasi aktivitasnya di dunia maya.

Selingkuh tidak selalu terjadi pada orang-orang yang secara moral “menyimpang”. Pada 2004, 82 persen responden survei mengatakan bahwa selingkuh selalu dilakukan oleh orang yang moralnya cacat. Namun satu penelitian menunjukkan bahwa satu di antara dua wanita menikah memiliki minimal satu selingkuhan sebelum usia 40 tahun. Jadi, seseorang harus memiliki kesempatan untuk berselingkuh, bahkan jika mereka tidak berpikir akan melakukannya. Demikian seperti diulas Thirdage.

Mencegah perselingkuhan sederhana ketika diucapkan, tapi sangat berat dalam pelaksanaannya.

“Agar pasangan terhidari dari perselingkuhan, pertama-tama mereka harus menerima kenyataan bahwa tertarik pada orang di luar pasangan adalah sesuatu yang wajar dan normal,” kata Peggy Vaughn, penulis Myth of Monogamy.

Selanjutnya, bila Anda berfantasi tentang orang lain selain pasangan, Anda harus memberitahunya. Itu artinya, kunci selanjutnya adalah jujur dan terbuka tentang perasaan Anda.

“Tapi, jangan menjelaskannya secara rinci agar tidak menjadi bumerang, yakni menyakiti perasaan pasangan Anda,” tegasnya.

Katakan kepadanya apa yang Anda hargai dalam pernikahan bersamanya. Lakukan percakapan terbuka secara rutin dengannya untuk saling berbagi perasaan.

Jika Anda seperti kebanyakan orang yang menyembunyikan kesalahan—salah satunya selingkuh—bisa jadi Anda akan berhadapan dengan hasil yang tidak diharapkan. Lebih mudah untuk bersikap jujur dengan pasangan, apalagi bila Anda telah sepakat bahwa komunikasi merupakan pondasi hubungan.

Komunikasi terbuka untuk mengutarakan perasaan masing-masing semestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang di luar batas dan mengancam posisi.

”Bila kemudian fantasi menjadi sesuatu yang lebih menarik ketimbang kehidupan nyata, mendorong seseorang untuk berperilaku licik, dan menyembunyikannya, inilah yang menyebabkan perselingkuhan,” tukas Peggy.

Lain waktu bertemu seseorang yang menarik, Anda boleh menghargainya, tapi pastikan Anda menjaga komunikasi terbuka dengan pasangan.